Dadung H.S: Dihari Kesaktian Pancasila, Mari Tingkatkan Semangat Berpancasila, dan Menjadi Panutan,  Suri Tauladan Yang Baik

19

JAKARTA – Sebagai Dasar Negara Republik Indonesia, Pancasila sudah final, sebagai Falsafah dasar, sumber dari segala nilai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita harus menafsirkan dan menterjemahkan dalam sikap, tindakan dan prilaku serta dalam membuat keputusan harus merefleksikan terhadap nilai-nilai Pancasila.

Dengan diperingatinya Hari Kesaktian Pancasila pada tanggal 1 Oktober, Dadung Hari Setyo selaku Ketua Umum Perbumma (Perkumpulan Badan Usaha Milik Masyarakat) Adat Nusantara, saat ditemui tim media diruangan kerja Kawasan Ujung Menteng Business Center, Jakarta, pada Selasa Sore (01-10-2020) menyampaikan

“Sebelum Kemerdekaan nilai-nilai Pancasila itu sudah tersirat dalam kehidupan sehari-hari , dan dizaman kemerdekaan tercantum dalam komitmen Pembukaan UUD 1945. Setelah sekian tahun kita merdeka, tentu pola pandang, pola tafsir, dan pola perspektif tentang ke-Pancasilaan ini harus berkembang seiring dengan peradaban kehidupan manusia. Dulu Tahun 1945 belum ada globalisasi, modernisasi, namun sekarang Pancasila tetap menjadi jadi diri bangsa yang melekat dalam jiwa putra-putra bangsa ini”, ujar Dadung yang pernah menjadi Ketua DPP KNPI tahun 2005-2008 ini

Dadung Hari Setyo yang akrab dipanggil Masda ini menjelaskan tentang Aplikasi nilai-nilai Pancasila, Kita mengenal istilah adanya Ekonomi Pancasila, saya yang aktif di Perbumma, berpandangan bahwa Pancasila itu berasal dari adat istiadat sebelum kemerdekaan. Nilai-nilai Masyarakat adat sebetulnya sama dengan nilai-nilai yang ada di Pancasila. Contoh nilai-nilai Pancasila itu dapat kita liat pada masyarakat adat

“Generasi muda kedepan harus bisa memaknai Kesaktian Pancasila, Nilai-nilai Pancasila harus bisa kita terapkan, karena Pancasila tidak akan hilang oleh waktu, abadi selamanya, tidak hilang oleh rezim, dan tidak hilang oleh politik. Dengan perkembangan teknologi, ini sangat mempengaruhi generasi kita, ini yang merubah sikap dan prilaku masyarakat. Kalau masyarakat tidak siap, ini akan menjadi bentuk tekanan sosial baru, pertumbungan manusia itu dipaksa untuk dapat menjadi dewasa, supaya cepat kerja, itulah dampak dari kemajuan teknologi”, ulas Masda

Masda juga mengupas terkait Hal yang dapat merongrong Pancasila

“Sebetulnya dalam filosofi adat nusantara sudah jelas yaitunya Trisula, apakah kelompok kanan, maupun kelompok kiri, yang tengah-tengah lebih besar dan lebih tinggi. Apapun latar belakang, itu masih saudara kita, yang penting masih bisa dikendalikan dalam konteks keseimbangan. Yang perlu kita pikirkan sebetulnya bukan kelompok kanan ataupun kiri (baik itu Kelompok Khilafah ataupun Neo PKI), tapi kita sudah bisa menjadi contoh apa belum, sudah bisa menjadi suri tauladan / panutan belum, Inilah yang perlu kita tekankan”

“Suasana PKI tahun 1965 itu jangan ditampilkan dalam kondisi sekarang, dulu tahun1965 teknologi blum ada,dulu masih bersifat fisik semua, jadi benturan-benturan ideologi itu pasti keras, karena peradapan waktu itu seperti itu. Kita paham PKI mempunyai sejarah yang sangat kelam, tapi untuk memperingatinya kita jangan ditarik lagi kesuasana tahun 1965, karena kita belum lahir. Yang perlu kita pahami sekrang bagaimana negara itu bisa mewujudkan kesejahteraan untu rakyatnya, semua paham pasti tujuannya kesejahteraan, namun yang membedakan teknik dan polanya. Sebetulnya secara PKI tersebut tidak akan subur di Indonesia dengan adanya Pancasila, kecuali dipakai untuk kepentingan-kepentingan politik yang selalu membesar-besarkan”

“Begitu juga dengan kelompok kanan seperti Kelompok Radikal, ISIS, ataupun Khilafah itu semua adalah suatu Paham. Orang punya Kepahaman dalam menjalankan ini saya bisa hidup sejahtera, namanya manusia punya paradigma (analisa yang mendasari suatu pemikiran), klo analisa dan dasarnya sempit ataupun pendek, jangan diikuti, maka ikutilah Paradigma yang luas dan panjang, yaitunya Pancasila yang udah final, karena Pancasila ini sangat konprehensif, integritik, sisteneble, dan universal. Inilah tugas kita membenarkan orang-orang yang salah dalam berpandangan tersebut. Untuk menyadarkan itu kita kembali kepada elit-elit politik yang harus menjadi suri tauladan bagi masyarakatnya”, tutup Masda yang pernah menjadi Ketua Umum DPN Gema Kosgoro. (Megy)