Calon Penghuni Apartemen Meikarta Kecewa, Tidak Adanya Transparansi, dan Sistim yang Berbelit-belit

  • Bagikan

JAKARTA – Semenjak dilakukan Pembangunan Apartemen Meikarta, Tim Marketing begitu gencar dalam memasarkan dan memberikan informasi tentang Apartemen tersebut. Berbagai tawaran menarik dan harga yang dirasa sangat terjangkau, membuat calon pembeli tergiur dan membuat adanya rasa memiliki satu unit di Apartemen tersebut.

Calon Penghuni Apartemen Meikarta berinisial SR menceritakan kronologis kejadiannya kepada tim media beberapa waktu lalu

“Pada akhir tahun 2017, awal pertama kali penjualan apartement Meikarta banyak sekali hadiah dan diskon yang diberikan kepada customer, datanglah sales Meikarta yang bernama Agung Pradipta ketempat saya untuk menawarkan unit sesuai dengan kebutuhan customer. Kesepakatan SR dengan sales mendapatkan diskon 42% dari harga unit dan 1 free voucher AC”, ujar SR

SR mengungkapkan sudah membayar biaya yang diperlukan dan angsuran sebesar Rp 1.714.711,45 selama 2 tahun terhitung dari juni 2018 sampai Mei 2020, disurat konfirmasi sudah ada tertera serah terima kunci 31 Desember 2019, namun sampai detik ini belum terlaksana.

“Bulan April 2020 pihak dari PT. DTD sebagai sales Meikarta menawarkan unit dengan tipe 2 kamar. Kesepakatan sales dengan SR menyetujui perpindahan dari district 2 ke district 1, tetapi sangat disayangkan tidak dijelaskan terlebih dahulu mngenai perincian biaya-biaya”, jelas SR

“Biaya administrasi lainnya dan angsuran sebesar Rp 2.250.000 selama 3 bulan Juli sampai September 2020 sudah dibayar, Sales Meikarta mengatakan serah terima kunci bulan Juli 2020, tetapi sampai akhir bulan pun tidak ada kabar”

SR menegaskan “Saya memutuskan untuk menghubungi pihak Meikarta yang bernama Ivan bagian audit. Dua hari kemudian, SR dihubungi kembali dari pihak Meikarta bahwa pada 10 agustus 2020 akan seserahan kunci, kemudian tiba pada hari-H SR mendapatkan konfirmasi dari pihak Meikarta serah terima kunci diundur menjadi 14 september 2020 dikarenakan lift di towernya belum siap. Lalu tanggal 13 september 2020 SR sudah menyiapkan semua dari segi biaya dan waktu yang diperlukan untuk esok harinya. Pada malam hari SR di hubungi kembali oleh pihak Meikarta Ivan bagian audit bahwa serah terima kunci diundur, tetapi SR tidak bisa membatalkan karena sudah bayar mobil untuk ke Meikarta”

SR mengungkapkan “Pada tanggal 14 september 2020 bersama keluarga pergi ke Meikarta dan mendengar kabar masih ada kendala tembok rembes berjamur pula, akhirnya disuruh menunggu pihak Meikarta menunggu sampai benar-benar siap”, ungkap SR

Setelah itu menceritakan kepada pihak Meikarta bernama Nurfa bagian serah terima kunci bahwa masih ada kendala mengenai perincian biaya-biaya. Nurfa menyarankan untuk menanyakan hal tersebut kepada Bank Nobu, Setelah seminggu berlalu langsung menuju Bank Nobu perihal perincian biaya-biaya. Sesampainya disana dipersulit bertemu dengan pihak terkait dikarenakan covid19, ulas SR dengan kesal

SR menambahkan “Anak saya meminta bantuan dan akhirnya pihak Bank Nobu, bernama Flora mau bertemu dengan keluarga kami. Masih kurang puas dengan penjelasan yang tidak ada jawaban dari pertanyaan kami, dan Bank Nobu pun melemparkan ke Meikarta mengenai perincian biaya-biaya. Kedua kalinya saya ke Bank Nobu tetapi belum ada jawaban yang memuaskan. Keluarga saya sudah mengirimkan somasi perihal perincian biaya ke kantor Meikarta. Pada tanggal 25 september 2020 saya dihubungi sales Meikarta bernama Lia untuk menghubungi Julius yang lagi pulang kampung selama 1 minggu. Pada tanggal 29 september 2020 sata dihubungi pihak Meikarta serah terima kunci tapi diundur juga karena ada masalah. Anak saya menanyakan informasi perincian biaya-biaya dengan siapa. Pihak Meikarta Nurfa menjelaskan chat lewat whatsapp. Tetapi nomer wa tidak muncul. Sampai akhirnya menghubungi Nurfa kembali meminta tolong kirim ulang nomer whatsapp dan tidak ada respon (hanya di read saja)”, tutup SR. (mg)

  • Bagikan