Mi6 Serta Publik Institut NTB Khawatir Akan Kepunahan Budaya Sasak

  • Bagikan

Mataram, Matajitunews.com –

Budaya Sasak di Lombok Nusa Tenggara Barat sangat beragam Mulai dari seni tari pewayangan, alat musik tradisional hingga sistem penanggalan atau kalender.

Namun dari banyaknya budaya Sasak cukup jarang yang mengulas literasi khusus kebudayaan Sasak maupun mempromosikan secara aktif dan jenis kesenian tradisional tersebut.

Ancaman kepunahan pun menjadi semakin nyata seiring perubahan zaman Milenial semakin melupakan kebudayaan asal Era teknologi menyeret khazanah Sasak tergerus di ambang pintu kepunahan

Lembaga Kajian Sosial dan Politik, Mi6 dan Publik Institut NTB , menyoroti tanggalan Sasak Warige yang sudah hampir tidak dikenal , Padahal sistem penanggalan leluhur tersebut cukup berjaya tempo dulu

Sistem kalender Sasak Warige merupakan penanggalan yang berdasarkan pengamatan peredaran bintang Identik dengan bintang pleiades atau dalam bahasa Sasak disebut Bintang Rowot

Bintang Pleiades atau Gugus Kartika adalah sebuah gugus bintang terbuka di rasi bintang Taurus Gugus bintang tersebut dapat dilihat dengan mata telanjang karena dekat dengan bumi.

Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto didampingi Sekretaris Mi6 , Lalu Athari Fathulah, Dewan Pendiri Mi6, Hendra Kesumah dan Direktur Publik Institut NTB, Ahmad SH mengatakan Warige adalah penanggalan oleh masyarakat Sasak digunakan untuk menentukan hari baik dan buruk Sehingga untuk beraktivitas bertani melaut maupun kegiatan kebudayaan dan keagamaan mengacu pada Warige (urige / perimbon ) lantaran tersebut menjadi rujukan masyarakat Sasak dalam menentukan waktu yang baik atau waktu yang tidak baik,”ungkap Didu (14/5)

Sementara itu Sekretaris Mi6 Lalu Athari menambahkan tanggalan urige saat ini justru hanya digunakan pada acara Bau Nyale, karena sudah banyak orang mulai lupa dan tidak mengetahui menggunakan urige ,dari generasi ke generasi, kebudayaan Sasak mulai dilupakan seperti dalam urige salah satunya,” ujarnya

NTB sebagai daerah pariwisata membutuhkan kesenian dan budaya sebagai bagian dari atraksi pariwisata. Untuk itu, campur tangan pemerintah diharapkan mampu mempertahankan budaya dan kesenian Sasak , Jika pemerintah hanya fokus pada pariwisata semata tanpa merawat penunjang pariwisata yang menjadi bagian atraksi seperti seni dan budaya ,” tandas Lalu Athari.

Jangger Sasak, Simbol Perlawanan Perempuan

Sementara Mi6 dan Publik Institut NTB melihat Seni tari Jangger Sasak juga mulai terlupakan Padahal seni tari tersebut pada masanya selalu ramai digunakan saat acara hajatan baik pernikahan maupun sunatan.
Namun era saat ini Jangger sudah mulai sepi peminat Padahal, banyak orang bergantung hidup pada seni tari tersebut.

Direktur Publik Institut NTB, Ahmad SH menuturkan, saat ini generasi milenial yang tidak paham arti sesungguhnya Jangger. Banyak orang yang hanya melihat Jangger adalah sebuah hiburan erotis yang menampilkan perempuan dengan lekuk tubuh seksi menari di hadapan banyak pria , dan pada tarian Jangger Sasak i memiliki filosofis yang justru sebagai bukti perempuan Sasak mempertahankan kehormatan mereka karena diSetiap gerakan Jangger memiliki filosofis yang menandakan perjuangan perempuan menjaga kehormatannya,” ungkapnya

Biasanya saat perempuan menari akan datang seorang laki-laki yang ikut menari , Terkadang tangan nakal lelaki itu berusaha menjamah tubuh si penari perempuan dari sanalah Jangger akan mengeluarkan gerak tari mempertahankan kehormatannya dan dia memiliki gerakan menangkis tangan nakal lelaki tersebut

Baju penari juga cukup tebal untuk melindungi dirinya. Sementara di kepala si penari terdapat perhiasan yang berbentuk tajam, yang akan mengarahkan kepada si penyawer pria saat posisi si Jangger tertekan

Gerakan Jangger seperti silat yang bersiap menangkis serangan. Di tangannya juga memiliki kipas yang akan menghalau penyawer nakal.

Bahkan gerakan kaki si penari berbentuk kuda-kuda dalam posisi siap siaga. Itu semua memiliki filosofis bentuk perlawanan perempuan menjaga kehormatan,” beber Hendra Kesumah.

Mi6 menyadari seni tari Jangger sudah mulai memasuki fase kepunahan. Itu karena peran pemerintah dinilai masih minim untuk terus mempertahankan budaya Sasak

Pemerintah kadang lupa,era modern yang membawa banyak teknologi dan industrialisasi, konsekuensinya tentu ada yang akan terlupakan. Yaitu seni-budaya tradisional kita. Itu juga akan tenggelam bersama kemajuan zaman jika tak terurus,” jelasnya.

Terkait adanya perubahan penari yang kerapkali berpenampilan seksi dalam seni tari tradisional maupun kontemporer Sasak, Ahmad SH melihat itu hanya soal kedewasaan masyarakat dalam menikmati seni.

Tidak perlu dikaitkan dengan religi. Seni itu murni ekspresi, bicara soal estetika. Religi itu ranah etik, sementara seni ranah estetik dan tidak berurusan dengan moral,” jelasnya.

Kesenian memang bukan kitab suci yang akan kekal sepanjang masa. Sudah menjadi hukum alam bahwa seni punya hak untuk lahir, berkembang dan mati. Namun, menjadi kewajiban kehadiran pemerintah untuk mempertahankan seni dan budaya tetap terus hidup.

Jadi jangan hanya dibuat mabuk dengan modernisasi dan industrialisasi, tapi seni budaya sendiri dilakukan. Itu ibarat anak kota yang tak tahu kampung asal jika seni dan budaya dilupakan,” Pungkas Ahmad SH yang juga aktivis Lingkungan dan mantan pengurus teras di Walhi Nasional Jakarta. (Mj-Ibn)



  • Bagikan