News  

Kagumi Pembinaan Narapidana Lapas Sumbawa Besar, Guru Besar IPB: “Baru Tau Ada Beginian di Lapas”

Guru Besar IPB dan Tim Kanoppi saat mengunjungi SAE Ai Maja Lapas Sumbawa Besar (02/12)

Sumbawa, Matajitunews.com – Semerbak wangi pesatnya perkembangan kawasan SAE Ai Maja Lapas Sumbawa Besar Kanwil Kemenkumham NTB tercium juga hingga kancah nasional. Khususnya Klaster Madu Trigona, mampu menarik perhatian para akademisi dan peneliti yang tergabung dalam Center for International Forestry Research (CIFOR).

Melalui kelompok peneliti Kanoppi (Kayu dan Non-Kayu Dalam Sistem Produksi dan Pemasaran yang Terintegrasi), CIFOR mengunjungi sentra budidaya madu lebah hitam trigona untuk menyaksikan lebih dekat hubungan antara hasil alam ini dengan penerapan pembinaan kemandirian bagi warga binaan.

Dikomandoi oleh Prof. Didik Suharjito, Guru Besar Institut Pertanian Bogor dan Dr. Mustakam, Tim Peneliti UNRAM, beserta rombongan diterima langsung oleh Kalapas M. Fadli dan Kasi Kegiatan Kerja di SAE Ai Maja, Kamis (02/12).

Kegiatan berlangsung dalam format diskusi santai yang diawali penyampaian maksud dan tujuan kedatangan Tim Kanoppi, dimana tim tersebut mengaku tertarik mengetahui bahwa pembudidayaan madu trigona dapat dilakukan oleh warga binaan, mengingat selama ini Kanoppi melakukan bimbingan kepada kelompok masyarakat biasa.

Kalapas M. Fadli saat menjelaskan progres Ai Maja kepada Tim Kanoppi (02/12)

Kalapas M. Fadli menjelaskan bagaimana klaster ini terwujud didorong oleh semangat menjadikan Lapas Sumbawa Besar sebagai salah satu Lapas produktif, serta bagaimana mempersiapkan warga binaan agar memiliki keahlian saat nanti kembali ke tengah-tengah masyarakat.

“Kita membalikkan fakta bahwa selama ini lapas cenderung konsumtif, dengan begini kita bisa wujudkan lapas menjadi lebih produktif. Kami juga berupaya untuk membuat warga binaan memiliki skill yang dapat dikembangkan nantinya.” jelas Kalapas

Mendengar penjelasan tersebut, Prof. Didik menyatakan kekagumannya. Dirinya mengakui bahwa belum pernah mendengar sebelumnya warga binaan di Lapas dapat diberikan pembinaan berbasis hasil alam seperti ini. Pihaknya akan berupaya untuk menyuarakan kegiatan ini di kalangan peneliti nasional sehingga bisa meraih engagement yang lebih luas.

“Terus terang saya antusias, baru tau kalau ada beginian di lapas, saya akan bawa (kegiatan pembinaan) ini keluar biar terdengar di nasional.” ungkapnya

Prof. Didik melanjutkan bahwa pihaknya akan berupaya untuk turut serta berkontribusi dalam membina SDM warga binaan agar pengetahuan dan keilmuannya tentang pembudidayaan ini dapat lebih baik.

“Tantangannya adalah bagaimana menciptakan pasar yang lebih besar, sehingga perlu adanya peningkatan pengetahuan terkait teknik-teknik pembudidayaan. Saya rasa ilmunya bisa diturunkan oleh kita-kita.” tutur Didik.

Diakhir kesempatan, Kalapas menyampaikan harapannya agar kedatangan Prof. Didik dan tim dapat melambungkan gaung SAE Ai Maja sehingga dapat terdengar hingga pelosok negeri, serta membuka jalan bagi Ai Maja untuk mendapatkan atensi dan dukungan untuk dapat berkembang lebih luas lagi. (MJ-hms)