Seperti di Pesantren, Suasana Religius Warnai Keseharian WBP Lapas Sumbawa Besar

  • Bagikan
WBP Lapas Sumbawa Besar berangkat menuju masjid, Kamis (09/12)

Sumbawa, Matajitunews.com – Menjadi penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) bukanlah akhir dari segala kehidupan, serta bukan pula menjadi tempat meratapi diri atas kesalahan yang pernah diperbuat.

Melalui beragam program pembinaan, Lapas Sumbawa Besar Kanwil Kemenkumham NTB berhasil menanamkan pemahaman bahwa keberadaan para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lapas merupakan kesempatan yang diberikan Tuhan untuk menggali potensi diri, serta kesempatan untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya.

Kesadaran tersebut nampaknya mengakar kuat dalam hati WBP Lapas Sumbawa Besar. Terbukti dari tingkat disiplin dan semangat mereka dalam mengikuti setiap program pembinaan khususnya bidang keagamaan. Bahkan, satu jam sebelum azan sholat berkumandang, mereka sudah mulai bersiap dan berangkat menuju masjid.

Keringanan langkah warga binaan ini merupakan buah kesabaran para petugas yang melakukan pembinaan sejak awal mereka dikirim ke Lapas. Hingga pada akhirnya hal tersebut menjadi kebiasaan yang tak lagi perlu diarahkan atau menunggu perintah untuk mengikuti kegiatan, melainkan murni dari kesadaran individu.

Kalapas Sumbawa Besar, M. Fadli menuturkan bahwa visinya adalah untuk menjadikan Lapas Sumbawa Besar memiliki kultur kesantrian, serta mewujudkan miniatur masyarakat yang religius. Harapan besarnya adalah kebiasaan tersebut dapat dibawa oleh para warga binaan ini ketika bebas nanti ke tengah-tengah keluarga dan masyarakat sehingga dapat menekan peluang kembalinya mereka terjerat tindakan pelanggaran hukum.

“Ini tak lepas dari kerja keras petugas dalam mewujudkan kultur santri di lapas. Harapannya mereka dapat bawa ini ke keluarga atau masyarakat luas, juga biar ada semacam kesadaran agar tidak melakukan pelanggaran hukum lagi.” jelasnya, Kamis (09/12)

Menurutnya suasana religius yang dibangun ini secara tidak langsung telah membantu menciptakan kondisi yang kondusif di dalam Lapas. Kesadaran beragama masing-masing warga binaan juga dapat menghindarkan mereka dari tindakan tidak terpuji. (MJ-hms)

 




  • Bagikan